UMKMJATIM.COM – Harga cabai rawit di Pasar Induk Pare, Kabupaten Kediri, mengalami penurunan signifikan seiring dengan meningkatnya pasokan dari berbagai daerah.
Data terbaru yang dirilis oleh Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri pada Rabu (2/4/2025) menunjukkan adanya tren penurunan harga pada berbagai jenis cabai rawit dan cabai merah lainnya.
Harga cabai rawit merah (CRM) varietas Ori 212 dan Brengos 99 yang sebelumnya dijual Rp85.000 per kilogram kini turun sebesar Rp20.000 menjadi Rp65.000 per kilogram.
Varietas Asmoro 043 dan cabai lokal Kediri juga mengalami penurunan harga dari Rp80.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.
Sementara itu, cabai rawit jenis Prentol atau Tumi 99 yang sebelumnya dijual seharga Rp75.000 per kilogram kini turun Rp21.000 menjadi Rp54.000 per kilogram.
Ketua APCI Kabupaten Kediri, Suyono, mengonfirmasi bahwa harga cabai rawit mengalami penurunan karena pasokan yang meningkat serta meningkatnya kembali permintaan dari wilayah Jabodetabek setelah sempat melambat.
Selain cabai rawit, harga cabai merah besar (CMB) juga mengalami penurunan. Varietas Gada MK yang sebelumnya dijual Rp50.000 per kilogram kini turun Rp5.000 menjadi Rp45.000 per kilogram,
sedangkan varietas Imola mengalami penurunan harga dari Rp48.000 menjadi Rp43.000 per kilogram.
Penurunan harga juga terjadi pada cabai merah keriting (CMK).
Varietas Boos Tavi yang sebelumnya dijual Rp40.000 per kilogram kini turun Rp3.000 menjadi Rp37.000, sedangkan varietas Sibad turun Rp5.000, dari Rp38.000 menjadi Rp33.000 per kilogram.
Dari segi distribusi, pengiriman cabai rawit merah ke wilayah Jabodetabek mencapai 6 ton, meskipun penyerapan untuk sektor industri masih rendah dan pengiriman ke Kalimantan masih belum dilakukan.
Sementara itu, pasokan cabai rawit merah yang berasal dari Kediri dan Blitar tercatat mencapai 26 ton.
Untuk cabai merah besar, total pasokan dari Kediri dan Blitar mencapai 7 ton, sedangkan cabai merah keriting yang masuk dari wilayah Kediri berjumlah sekitar 1 ton.
Penurunan harga cabai ini memberikan dampak positif bagi konsumen karena mereka dapat membeli cabai dengan harga yang lebih terjangkau.
Namun, bagi petani, kondisi ini memunculkan tantangan tersendiri karena harga jual yang menurun dapat berdampak pada pendapatan mereka.
Ke depan, para petani berharap harga cabai bisa kembali stabil dengan adanya penyesuaian permintaan dan distribusi ke berbagai daerah.
Suyono menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan cabai di pasar agar keseimbangan antara produksi dan permintaan tetap terjaga.
Dengan kondisi pasokan yang terus meningkat, diharapkan harga cabai tetap dalam kisaran yang wajar sehingga menguntungkan baik bagi konsumen maupun petani.***