UMKMJATIM.COM – Perum Bulog Malang memastikan bahwa stok beras di gudang mereka dalam kondisi surplus hingga tahun depan.
Kepala Perum Bulog Malang, M. Nurjuliansyah Rahman, mengungkapkan bahwa persediaan saat ini mencapai 68 ribu ton, tersebar di empat gudang wilayah Malang.
Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai musim panen berikutnya.
Menurutnya, stok tersebut sebagian besar disiapkan dalam kemasan lima kilogram, sehingga lebih mudah didistribusikan ke masyarakat.
Dengan kondisi ini, pihak Bulog optimis tidak akan terjadi kekurangan pasokan beras dalam waktu dekat.
Bulog Malang menetapkan harga beras di gudang sebesar Rp11 ribu per kilogram. Pedagang diperbolehkan mengambil keuntungan, namun tetap harus mengikuti ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Artinya, harga maksimal yang boleh sampai ke tangan konsumen adalah Rp12.500 per kilogram atau sekitar Rp62.500 untuk kemasan lima kilogram.
Meskipun aturan tersebut sudah jelas, realita di pasar menunjukkan harga beras medium tetap tinggi.
Kondisi ini disinyalir karena keterbatasan ketersediaan beras medium di tingkat pedagang, meskipun secara total stok di gudang Bulog masih aman.
Nurjuliansyah menyebut bahwa perbedaan antara kondisi gudang dan harga pasar kemungkinan besar dipengaruhi kelangkaan beras medium.
Ia menegaskan bahwa ketersediaan beras medium memang sedang terbatas sehingga harga mengalami kenaikan.
Sementara itu, untuk beras premium, pihak Bulog belum memiliki data rinci mengenai pasokan dan pergerakan harganya.
Situasi ini membuat harga beras medium di pasaran masih sulit terkendali, meskipun pasokan beras dari Bulog tergolong surplus.
Untuk menstabilkan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat, Bulog Malang menargetkan penyaluran 23 ribu ton beras SPHP hingga akhir 2025.
Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan stok yang tersedia di gudang, sehingga Bulog tetap yakin bahwa pasokan akan terjaga dengan baik.
Dengan kondisi surplus, tantangan utama kini terletak pada bagaimana distribusi dapat berjalan lancar dan masyarakat bisa memperoleh beras dengan harga sesuai ketentuan HET.
Nurjuliansyah menegaskan bahwa stok yang melimpah tidak akan bermanfaat jika akses masyarakat ke produk SPHP masih terbatas.
Surplus beras di gudang Bulog Malang hingga 68 ribu ton menjadi kabar baik bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi isu kenaikan harga pangan.
Namun, persoalan harga beras medium yang masih tinggi menunjukkan bahwa distribusi dan ketersediaan di tingkat pedagang perlu diperkuat.
Melalui program distribusi SPHP, diharapkan harga bisa lebih terkendali sehingga masyarakat dapat membeli beras dengan harga terjangkau.
Dengan demikian, surplus beras yang ada benar-benar mampu memberikan dampak nyata terhadap stabilitas pangan di wilayah Malang.***