Perputaran Uang Turun Saat Lebaran 2025, Kadin Jatim Sebut Sebagai Sinyal Suram Ekonomi Nasional

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Saturday, 5 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

UMKMJATIM.COM – Perayaan Idulfitri 2025 yang semestinya menjadi momentum peningkatan konsumsi dan penggerak ekonomi, justru menyisakan kekhawatiran.

Berdasarkan data terbaru, tercatat penurunan perputaran uang selama masa Lebaran mencapai 12,28%, yakni dari Rp157,3 triliun menjadi Rp137,97 triliun.

Fenomena ini menjadi perhatian serius dari Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur,

Adik Dwi Putranto, yang menilai kondisi ini sebagai sinyal melemahnya aktivitas ekonomi nasional, khususnya dari sisi konsumsi rumah tangga.

Ia menggarisbawahi bahwa penurunan ini memiliki korelasi kuat dengan berbagai faktor yang tengah melanda perekonomian Indonesia.

Salah satu penyebab utamanya diyakini berasal dari turunnya jumlah pemudik pada tahun ini.

Selain itu, gejala deflasi yang muncul dalam periode yang biasanya mengalami inflasi musiman turut memperkuat indikasi adanya pelemahan daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Peluang Bisnis Biro Jasa Samsat: Solusi Praktis Bayar Pajak Kendaraan di Jawa Timur

Adik mengemukakan bahwa penurunan sebesar Rp20 triliun dalam sirkulasi uang di masa Lebaran 2025 bertolak belakang dengan tren tahunan yang biasanya menunjukkan lonjakan konsumsi.

Tradisi Lebaran selama ini selalu menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor-sektor seperti pangan, transportasi, pariwisata, ritel, dan hiburan.

Namun, alih-alih tumbuh, sektor-sektor tersebut justru mengalami kontraksi yang cukup mencolok.

Kondisi ini, menurutnya, merefleksikan dua isu krusial: daya beli masyarakat yang terus melemah dan meningkatnya sikap kehati-hatian dalam pengeluaran rumah tangga.

Data deflasi secara nasional, baik dalam skala bulanan (0,48%) maupun tahunan (0,09%), dinilai mempertegas sinyal melemahnya tekanan konsumsi yang biasanya menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan bahwa deflasi dalam konteks saat ini tidak dapat dianggap sebagai kabar baik, melainkan menjadi gejala dari lemahnya permintaan agregat.

Baca Juga :  Legalitas Usaha: Mengapa Izin Usaha dan NIB Menjadi Kunci Keberlangsungan UMKM

Terlebih, ketika deflasi terjadi pada masa Lebaran—momen yang secara historis memicu inflasi akibat lonjakan permintaan—maka ini menunjukkan adanya anomali ekonomi yang perlu disikapi secara serius.

Salah satu penyebab utama yang teridentifikasi adalah meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri.

Hal ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan rumah tangga, yang pada akhirnya menghambat kemampuan konsumsi.

Adik juga menyoroti bahwa pengeluaran besar yang biasa dilakukan saat Lebaran, seperti membeli pakaian baru, makanan khas, dan biaya mudik, kini cenderung dikurangi karena ketidakpastian ekonomi yang dihadapi banyak keluarga.

Lebih lanjut, penurunan jumlah pemudik bukan hanya menjadi cerminan kesulitan finansial, tetapi juga menimbulkan dampak lanjutan terhadap berbagai sektor lain seperti transportasi, perhotelan, dan UMKM di daerah tujuan mudik.

Baca Juga :  Nikmatnya Kue Apem dan Kucur di Pasar Legendaris Blauran Surabaya

Efek pengganda ekonomi yang biasanya ditimbulkan oleh arus mudik kini tidak tampak signifikan.

Menurut Adik, penurunan ini menunjukkan perpaduan antara faktor struktural seperti meningkatnya PHK dan lemahnya daya beli, serta faktor psikologis berupa perubahan pola konsumsi pasca pandemi yang lebih hati-hati.

Ia memperingatkan bahwa tanpa kebijakan yang responsif dari pemerintah, seperti insentif untuk UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan jaring pengaman sosial,

pelemahan konsumsi ini bisa berlanjut ke kuartal-kuartal berikutnya dan menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia pun menegaskan bahwa penurunan perputaran uang bukanlah fenomena musiman semata, melainkan alarm ekonomi yang perlu segera ditindaklanjuti secara serius.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak
Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak
Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam
Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan
Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen
Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana
Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan

Berita Terkait

Monday, 9 March 2026 - 19:39 WIB

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak

Monday, 9 March 2026 - 15:41 WIB

Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak

Saturday, 7 March 2026 - 20:29 WIB

Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam

Saturday, 7 March 2026 - 16:34 WIB

Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan

Saturday, 7 March 2026 - 15:36 WIB

Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen

Berita Terbaru