PPN Naik Jadi 12 Persen, Pelaku Wisata Malang Perbayak Event Untuk Dongkrak Kunjungan Wisatawan

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Wednesday, 4 December 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Industri wisata Malang hadapi tantangan PPN 12%. Strategi event dan kolaborasi optimalkan target kunjungan hingga 5 juta wisatawan.

Industri wisata Malang hadapi tantangan PPN 12%. Strategi event dan kolaborasi optimalkan target kunjungan hingga 5 juta wisatawan.

UMKMJATIM.COM – Industri wisata di Malang tengah menghadapi tantangan besar menjelang pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen pada awal tahun depan. Selain itu, kebijakan pemerintah pusat untuk membatasi perjalanan dinas (perdin) pegawai negeri sebagai langkah penghematan semakin menambah beban bagi pelaku pariwisata.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, optimistis target kunjungan wisata sebesar 3,1 juta orang tahun ini dapat tercapai. Saat ini, sudah ada 2,5 juta wisatawan yang datang, dan momentum Natal serta Tahun Baru (Nataru) diyakini akan menjadi pendorong utama.

“Kita akan mengebut penyelenggaraan event sesuai kalender kegiatan yang sudah dibuat,” ujar Baihaqi.

Untuk tahun 2025, target kunjungan wisata di Kota Malang dinaikkan menjadi 3,2 juta orang. Salah satu event besar yang diandalkan adalah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur yang diproyeksikan mendatangkan lebih dari 35.000 wisatawan.

Baca Juga :  Lewat BPJS Ketenagakerjaan, Pemkab Tuban Tingkatkan Perlindungan Sosial Buruh Pertanian, Perikanan, dan Peternakan

“Kotingennya saja akan mencapai 15.000. Belum official dan penontonnya,” tambah Baihaqi.

Selain Porprov, Kota Malang telah menyiapkan kalender event tahunan dan pengembangan kampung tematik seperti Kampung Tridi, Kampung Warna Warni, Glintung Water Street (GWS), dan Kampung Tempe Sanan.

Strategi Industri Hotel dan Pariwisata
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, menilai tahun depan akan menjadi tantangan berat bagi industri perhotelan.

”Target kami, paling tidak okupansi kamar hotel sama dengan tahun ini, 70 persen,” ungkapnya.

PHRI Kota Malang berharap sejumlah event nasional, seperti event marathon pada Januari dan agenda dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dapat meningkatkan tingkat hunian hotel.

Namun, kondisi berbeda terjadi di Kota Batu. Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, menyebut okupansi hotel rata-rata masih di bawah 50 persen.

Baca Juga :  Tingkat Penghunian Kamar Hotel di Kota Malang Naik, Libur Akhir Tahun Jadi Pemicu

”Hanya sebagian kecil yang di atas angka 50 persen, apalagi 60-70 persen. Sebagian besar masih di kisaran 30-45 persen,” katanya.

Penurunan okupansi hotel di Batu disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.

“Tahun politik sudah dilewati, tentunya dibarengi harapan perbaikan daya beli masyarakat yang signifikan,” ujar Sujud.

Berbagai strategi mulai disiapkan, seperti menambah fasilitas dan menggencarkan promosi. Selain itu, PHRI juga meminta dukungan pemerintah untuk memperbanyak penyelenggaraan event.

Harapan Kabupaten Malang
Di Kabupaten Malang, Ketua PHRI Wahyu Indrianti mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi hotel bintang tiga yang tingkat okupansinya berada di bawah 40 persen.

“Bahkan, pendapatan beberapa hotel tidak bisa menutup biaya operasional,” jelas Wahyu.

Strategi hemat di tengah kenaikan PPN menjadi 12 persen dan pembatasan perdin menjadi perhatian serius bagi pelaku wisata.

Baca Juga :  Pemkot Malang Terima Mobil Layanan Pajak Keliling dari Bank Jatim untuk Tingkatkan Pelayanan Publik

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Purwoto, berjanji akan menggenjot kunjungan wisata dengan berbagai event besar.

“Tahun ini angka kunjungan mencapai 4 juta dan sesuai target. Tahun depan kami naikkan targetnya jadi lima juta,” tegasnya.

Langkah Kreatif Pelaku Wisata
Yayuk Murniwati, pemilik biro perjalanan wisata, punya strategi khusus untuk mempertahankan pelanggannya.

”Misalnya membuat status dengan bertanya tentang kabar. Sehingga, ketika mereka ke Batu pasti akan mengabari,” tandasnya.

Dengan membidik wisatawan kelas menengah atas yang stabil terhadap perubahan harga, Yayuk tetap optimistis menghadapi tantangan tahun depan.

Kesimpulan
Meski tantangan di sektor wisata semakin besar, pelaku industri di Malang, Batu, dan Kabupaten Malang tetap optimistis. Kolaborasi pemerintah, PHRI, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata sebagai andalan ekonomi daerah

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak
Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak
Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam
Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan
Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen
Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana
Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan

Berita Terkait

Monday, 9 March 2026 - 19:39 WIB

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak

Monday, 9 March 2026 - 15:41 WIB

Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak

Saturday, 7 March 2026 - 20:29 WIB

Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam

Saturday, 7 March 2026 - 16:34 WIB

Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan

Saturday, 7 March 2026 - 15:36 WIB

Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen

Berita Terbaru