Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Monday, 9 March 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga jagung di Sekar Bojonegoro anjlok saat panen, petani terpaksa menjual Rp3.600/kg ke tengkulak akibat jagung basah dan akses distribusi sulit.

Harga jagung di Sekar Bojonegoro anjlok saat panen, petani terpaksa menjual Rp3.600/kg ke tengkulak akibat jagung basah dan akses distribusi sulit.

Masa panen jagung di Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, pada awal tahun 2026 justru membawa kabar kurang menggembirakan bagi para petani. Harga jagung yang sebelumnya diperkirakan bisa mencapai Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram, justru jatuh jauh di bawah harapan.

Di tingkat petani, jagung hanya laku sekitar Rp3.600 per kilogram, sehingga banyak petani merasa merugi karena harga tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi dan tenaga selama masa tanam hingga panen.

Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan jagung dalam karung terlihat di sepanjang jalan sekitar Desa Deling, Kecamatan Sekar. Jagung tersebut baru saja dipanen dan menunggu untuk diangkut oleh para tengkulak dari luar daerah.

Harga Jauh dari Harapan Petani

Kepala Desa Deling, Kecamatan Sekar, Didik Prioman, menyampaikan bahwa harga jagung yang diterima petani saat ini memang sangat jauh dari ekspektasi.

Baca Juga :  Telkomsel Dukung Hilirisasi Industri Mineral Lewat Optimalisasi Jaringan di PT Smelting Gresik

“Harga memang jauh dari harapan petani disini, rata-rata dibeli tengkulak dari luar desa,” kata Kepala Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Didik Prioman.

Menurutnya, para petani sebenarnya berharap harga jagung bisa mencapai minimal Rp4.500 per kilogram. Bahkan jika kondisi pasar baik, harga bisa menembus Rp5.000 per kilogram. Namun kenyataannya, harga yang diterima petani masih jauh dari angka tersebut.

Jagung Basah Jadi Alasan Harga Turun

Salah satu faktor utama turunnya harga jagung di wilayah Sekar adalah kondisi hasil panen yang masih basah. Jagung yang baru dipanen dari ladang belum melalui proses pengeringan sehingga kualitasnya dianggap kurang baik oleh pembeli.

Akibatnya, petani tidak memiliki banyak pilihan selain langsung menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga yang lebih rendah.

Baca Juga :  Pisang Emas Kirana Pundungsari Terkena Imbas Harga Anjlok, Petani Lumajang Harap Dukungan Pemerintah

“Makanya setelah dipanen langsung dijual ke tengkulak,” tegasnya.

Selain kondisi jagung yang basah, faktor lain yang memengaruhi harga adalah akses jalan di wilayah tersebut yang dinilai cukup berat untuk distribusi hasil panen. Hal ini membuat posisi tawar petani menjadi lebih lemah ketika berhadapan dengan tengkulak.

Faktor Hama Juga Memengaruhi Produksi

Selain persoalan harga, beberapa petani juga menghadapi masalah lain selama musim tanam jagung tahun ini. Serangan hama turut memengaruhi kualitas dan hasil produksi jagung di beberapa lahan.

Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengusaha lokal di wilayah tersebut.

“Selain juga karena faktor hama juga,” pungkasnya.

Kondisi tersebut membuat petani semakin tertekan karena produksi tidak maksimal, sementara harga jual juga turun.

Baca Juga :  Bupati Bojonegoro Dorong Sekar Jadi Pusat Pertumbuhan Wilayah Selatan Lewat Program GAYATRI

Petani Tidak Punya Banyak Pilihan

Dengan kondisi jagung yang masih basah dan keterbatasan fasilitas pengeringan, sebagian besar petani di Kecamatan Sekar akhirnya memilih menjual jagung segera setelah panen.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko kerusakan hasil panen jika disimpan terlalu lama tanpa proses pengeringan yang memadai.

Namun di sisi lain, keputusan tersebut membuat petani harus menerima harga yang ditentukan oleh tengkulak, yang umumnya lebih rendah dibandingkan harga pasar ideal.

Situasi ini menunjukkan bahwa petani masih membutuhkan dukungan fasilitas pascapanen, seperti mesin pengering jagung, agar kualitas hasil panen dapat meningkat dan harga jual menjadi lebih baik.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari
Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing
Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru
Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru
Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah
Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu
Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Kediri, Khofifah Turun Tangan Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha 2026 Sepi Pembeli, Pedagang Hewan Kurban di Malang Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 11:53 WIB

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari

Tuesday, 26 May 2026 - 08:51 WIB

Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing

Monday, 25 May 2026 - 19:48 WIB

Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru

Monday, 25 May 2026 - 11:48 WIB

Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah

Monday, 25 May 2026 - 11:47 WIB

Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu

Berita Terbaru