UMKMJATIM.COM – Cuaca hujan yang turun hampir setiap malam dalam beberapa hari terakhir memberikan dampak langsung pada komoditas hortikultura, terutama cabai.
Berdasarkan laporan resmi mengenai pergerakan harga cabai di Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri yang dirilis Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kediri pada Sabtu, 15 November 2025, hampir seluruh varietas cabai mengalami kenaikan signifikan akibat terhambatnya pasokan dari sentra produksi.
Kenaikan ini sekaligus menjadi indikator berkurangnya hasil panen karena kondisi tanaman banyak yang terdampak cuaca ekstrem.
Dalam rilis tersebut disampaikan bahwa Cabai Merah Besar (CMB) menjadi salah satu komoditas yang kenaikannya paling mencolok.
Varietas Gada EVO yang sebelumnya berada di level Rp40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp44.000 atau mengalami peningkatan Rp4.000.
Kenaikan yang sama dialami jenis Imola yang dari harga Rp38.000 naik menjadi Rp42.000 per kilogram.
Varietas CMB Sandi 08 turut mengalami penyesuaian harga dari Rp36.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hampir semua klasifikasi CMB terdampak penurunan suplai.
Selain cabai merah besar, Cabai Merah Keriting (CMK) juga mengalami tren serupa. Varietas Boos Tavi yang sebelumnya dihargai Rp35.000 naik menjadi Rp36.000 per kilogram.
Varietas Sibad juga meningkat dari Rp33.000 menjadi Rp34.000. Walaupun kenaikannya tidak setinggi CMB, perubahan harga ini tetap menunjukkan adanya gangguan pasokan yang cukup signifikan.
Ketua APCI Kediri, Suyono, menyampaikan bahwa seluruh varietas cabai hari itu mengalami kenaikan karena berkurangnya distribusi dari lahan pertanian.
Ia menjelaskan bahwa curah hujan yang turun pada malam hari secara terus-menerus membuat petani mengalami kesulitan dalam pengelolaan lahan dan proses pemetikan, sehingga jumlah cabai yang masuk ke pasar menurun.
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga di pasar induk.
Pada komoditas Cabai Rawit Merah (CRM), kenaikan juga terjadi di berbagai varietas. Varietas Brengos 99 naik dari Rp29.000 menjadi Rp30.000 per kilogram.
Asmoro 043 bergerak dari Rp28.000 ke Rp29.000 per kilogram. Varietas lokal Kediri ikut mengalami penyesuaian dari Rp26.000 menjadi Rp27.000 per kilogram.
Sementara itu, varietas Prentol atau Tumi 99 berada pada harga Rp22.000 per kilogram, meski tanpa kenaikan yang disebutkan dalam laporan.
Di sisi distribusi, sejumlah daerah tujuan juga menerima dampak dari penurunan pasokan.
Pengiriman komoditas cabai dari Pasar Induk Pare menuju wilayah Jabodetabek untuk periode tersebut mencapai 0,5 ton cabai keriting dan 1,5 ton cabai rawit merah.
Sementara industri yang menyerap cabai rawit merah mendapatkan pasokan sekitar 4 ton.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan turun, kebutuhan pasar nasional tetap tinggi.
Sumber pasokan cabai merah besar yang berasal dari Kediri, Blitar, dan Banyuwangi tercatat sebanyak 4 ton.
Untuk Cabai Merah Keriting dari Kediri dan Nganjuk, jumlah masuk sebesar 1 ton. Sedangkan pasokan Cabai Rawit Merah yang didatangkan dari Kediri dan Jombang mencapai 13 ton.
Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa alur distribusi masih berjalan, namun jumlahnya mulai menipis akibat tekanan cuaca.
Kenaikan harga ini diperkirakan akan berlangsung hingga kondisi cuaca kembali stabil dan petani mampu meningkatkan frekuensi panen.
Dengan menipisnya pasokan, konsumen di berbagai daerah diimbau untuk menyesuaikan kebutuhan, sementara pelaku pasar berharap curah hujan segera mereda agar harga cabai kembali normal.***











