UMKMJATIM.COM – Program One Pesantren One Product (OPOP) kembali menjadi sorotan dalam ajang OPOP Expo 2025, yang menghadirkan puluhan pesantren dengan beragam produk unggulan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren di Jawa Timur tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu berkontribusi dalam penguatan ekonomi masyarakat berbasis kemandirian dan kreativitas.
Endy, salah satu penggerak program OPOP, menjelaskan bahwa sejumlah pesantren peserta kini sudah mampu memperluas jaringan pemasarannya hingga ke luar Jawa Timur.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran alumni pesantren yang ikut membantu dalam membuka peluang pasar baru di berbagai daerah.
Jaringan alumni inilah yang kemudian menjadi kekuatan ekonomi baru bagi lembaga pesantren.
Ia menilai, perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa program OPOP mampu menggerakkan ekonomi pesantren secara nyata, tidak hanya untuk lembaga pendidikannya, tetapi juga untuk santri dan alumninya.
“Banyak pesantren yang sudah punya jejaring bisnis kuat berkat sinergi antara santri dan alumni. Inilah yang perlu terus diperkuat agar pesantren bisa semakin berdaya dan mandiri,” jelasnya.
Endy juga menambahkan bahwa OPOP Expo 2025 diikuti oleh sekitar 40 pesantren dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.
Setiap peserta menampilkan produk-produk unggulan yang dikembangkan secara mandiri di lingkungan pesantren.
Produk yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari makanan dan minuman olahan, kerajinan tangan (kriya), produk fashion, hingga inovasi berbasis digital yang dihasilkan oleh para santri muda.
Selain menampilkan potensi produk, ajang ini juga menjadi wadah kolaborasi antara pesantren, pelaku usaha, dan lembaga keuangan daerah.
Salah satu bentuk dukungan konkret datang dari Bank Jatim, yang memberikan fasilitas pembiayaan dan modal usaha bagi pesantren yang ingin mengembangkan produknya ke tingkat yang lebih luas.
Melalui kemitraan ini, diharapkan para pelaku usaha pesantren dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memperkuat strategi pemasaran mereka.
Endy menegaskan bahwa semangat utama dari OPOP adalah memberdayakan pesantren agar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
Menurutnya, kemandirian ekonomi pesantren tidak hanya memberikan manfaat finansial, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan spiritual masyarakat di sekitarnya.
“Kami ingin program ini menjadi gerakan ekonomi umat yang berkelanjutan. Pesantren tidak hanya mandiri dalam pendidikan dan dakwah, tetapi juga dalam ekonomi,” tuturnya.
Selain pameran produk, OPOP Expo 2025 juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung seperti workshop kewirausahaan santri, pelatihan branding produk lokal, serta talkshow tentang akses permodalan dan strategi pemasaran digital.
Kegiatan ini dirancang agar para peserta tidak hanya mendapatkan eksposur pasar, tetapi juga ilmu praktis yang dapat diterapkan di pesantren masing-masing.
Melalui ajang tahunan ini, pemerintah provinsi bersama mitra strategis berkomitmen terus mendorong pesantren menjadi pilar ekonomi kerakyatan yang kuat.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya berilmu agama, tetapi juga berjiwa wirausaha.
Program OPOP sendiri kini menjadi ikon pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren di Jawa Timur, yang telah melahirkan banyak brand lokal unggulan.
Dengan dukungan jejaring alumni, lembaga keuangan, dan pemerintah, pesantren kini tidak lagi sekadar lembaga pendidikan tradisional, melainkan juga motor penggerak ekonomi kreatif dan inklusif di daerah.***











