UMKMJATIM.COM – Pemerintah Kabupaten Sampang menetapkan sasaran ambisius untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2025.
Melalui proyeksi resmi, pemkab menargetkan peningkatan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 4,32 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding capaian sebelumnya yang hanya berada pada kisaran 3,23 persen.
Namun, optimisme tersebut tidak sepenuhnya dibarengi keyakinan kuat dari perangkat daerah.
Berbagai faktor struktural maupun kondisi eksternal membuat pemerintah daerah menilai target tersebut berpotensi sulit dicapai.
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sampang, Kustantinah, mengungkapkan bahwa pihaknya cenderung pesimis terhadap realisasi target pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang tahun ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam mendorong laju perekonomian daerah.
Anomali cuaca yang tidak menentu telah berdampak langsung pada sektor pertanian, yang selama ini menjadi pilar utama penopang ekonomi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pola cuaca yang tidak stabil menyebabkan terganggunya proses produksi pertanian.
Keterlambatan musim tanam, gagal panen, hingga penurunan produktivitas lahan menjadi rangkaian dampak yang tak terelakkan.
Situasi tersebut berulang seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga memberikan tekanan signifikan terhadap kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi regional.
“Mengaca pada tahun sebelumnya, faktor cuaca yang tidak menentu menjadi pemicu utama melemahnya sektor pertanian dan menurunkan hasil panen, yang kemudian berujung pada penurunan pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Selain tantangan dari sisi iklim, Kustantinah juga menyoroti lemahnya daya beli masyarakat sebagai faktor tambahan yang memperlambat gerak ekonomi daerah.
Daya beli yang lemah menggambarkan ketidakmampuan sebagian besar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi secara optimal.
Penurunan konsumsi rumah tangga ini berdampak langsung pada performa ekonomi karena konsumsi merupakan salah satu komponen terbesar dalam perhitungan pertumbuhan.
Tidak hanya itu, rendahnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita juga menjadi cerminan kurang kuatnya fondasi ekonomi Sampang.
PDRB per kapita yang rendah menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang belum memadai, sehingga berpengaruh pada kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi secara maksimal.
“Jadi faktor ini juga yang memperlambat laju ekonomi daerah,” ujarnya mengakhiri.
Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun pemerintah daerah telah menetapkan target pertumbuhan yang cukup tinggi, berbagai tantangan mendasar masih membayangi.
Kebutuhan strategi adaptif dalam menghadapi perubahan cuaca, peningkatan produktivitas sektor pertanian, serta penguatan daya beli masyarakat menjadi kunci utama untuk memperbaiki kinerja ekonomi Sampang ke depan.
Tanpa langkah strategis yang komprehensif, target 4,32 persen kemungkinan besar sulit dicapai sesuai harapan.***











