UMKMJATIM.COM – Desa Mengok yang terletak di Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan sumber daya bambu melimpah di wilayah Tapal Kuda.
Namun, selama bertahun-tahun, potensi besar tersebut belum dikelola secara optimal.
Bambu hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti pagar rumah, bahan bangunan sederhana, hingga kayu bakar, tanpa perhitungan nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat desa.
Perubahan signifikan mulai terjadi pada akhir 2025.
Melalui Program Wujudkan Desa Berdaya 2025, Desa Mengok memasuki fase baru pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dengan Universitas Jember.
Inisiatif tersebut tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga mengubah pola pikir warga dalam mengelola sumber daya alam dan membangun sistem usaha desa yang berkelanjutan.
Program yang diresmikan pada 12 November 2025 ini membawa misi mendorong desa agar mampu mandiri secara ekonomi melalui pengelolaan potensi lokal berbasis teknologi modern.
Selain fokus pada peningkatan ekonomi, program ini juga menyentuh aspek pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Pendekatan yang dilakukan bersifat bertahap dan berkelanjutan, dimulai dari survei lapangan, diskusi kelompok terarah, sosialisasi, hingga pelatihan teknis yang melibatkan warga secara langsung.
Ketua Tim Pengabdian Universitas Jember, Mohammad Ubaidillah, menjelaskan bahwa selama ini masyarakat Desa Mengok cenderung memandang bambu hanya sebagai bahan bangunan atau sumber energi rumah tangga.
Oleh karena itu, tim pengabdian memperkenalkan teknologi pengolahan bambu yang mampu menghasilkan produk bernilai tinggi.
Teknologi tersebut berupa alat pirolisis modern berbasis sistem anaerob-kondensasi serta mesin CNC terpadu yang dapat mengolah bambu menjadi arang dan briket dengan kualitas yang memenuhi standar pasar ekspor.
Penerapan teknologi ini memberikan dampak nyata dalam waktu relatif singkat.
Dua kelompok usaha bersama (KUB) di Desa Mengok, yakni KUB Kartika Jaya dan KUB Mengok Jaya, yang sebelumnya berjalan secara tradisional, kini mulai berkembang menjadi unit usaha yang lebih profesional.
Sebelum pendampingan, kedua kelompok tersebut belum memiliki struktur organisasi yang jelas maupun sistem manajemen produksi yang tertata.
Melalui program pendampingan, anggota kelompok usaha mulai memahami pentingnya aturan organisasi seperti anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, standar mutu produksi, serta penerapan konsep lean manufacturing.
Pendekatan ini terbukti mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi dan kapasitas kerja.
Ketua KUB Mengok Jaya, Bahrul Effendi, mengungkapkan bahwa sebelumnya aktivitas produksi dilakukan hanya berdasarkan kebiasaan tanpa perencanaan yang matang.
Setelah mendapatkan pendampingan, kelompok usaha kini mampu menjalankan sistem produksi dua shift, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh para pelaku usaha desa.
Transformasi Desa Mengok menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat mampu mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru.
Dengan pengelolaan yang tepat, bambu tidak lagi sekadar bahan baku sederhana, melainkan menjadi sumber kesejahteraan dan harapan baru bagi masa depan desa.***











