UMKMJATIM.COM – Upaya memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sumenep kembali mendapatkan dorongan intensif melalui program perluasan areal tanam padi.
Para penyuluh pertanian di daerah tersebut disebut terus bergerak untuk meningkatkan luas tanam, bahkan di kawasan yang sebelumnya tidak termasuk dalam Luas Baku Sawah (LBS).
Koordinator Jabatan Fungsional (KJF) Penyuluh Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Dewo Ringgih, menjelaskan bahwa percepatan penanaman padi di wilayah non-LBS menjadi salah satu fokus utama pendampingan.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan percepatan tanam ini telah berlangsung di beberapa kecamatan seperti Dasuk, Batang-Batang, dan Dungkek.
Upaya tersebut dikatakan dilakukan sebagai strategi jangka menengah untuk menjaga capaian swasembada pangan pada tahun 2025 sekaligus memastikan target swasembada berkelanjutan tercapai pada 2026.
Arah kebijakan ini menunjukkan bahwa Sumenep terus memaksimalkan sumber daya lahan yang ada, termasuk lahan kering dan lahan tadah hujan yang berpotensi ditanami padi melalui teknologi budidaya modern.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga ketersediaan pangan, terutama ketika tantangan perubahan iklim dan fluktuasi musim semakin terasa.
Dewo menilai bahwa perluasan areal tanam akan menjadi pilar penting dalam menjamin ketersediaan beras pada tahun mendatang.
Selain langkah perluasan lahan, penyuluh pertanian juga mengarahkan perhatian pada tiga strategi prioritas untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah.
Strategi pertama berkaitan dengan peningkatan produktivitas padi.
Para penyuluh di berbagai kecamatan mendorong petani mengganti varietas lama yang hasilnya mulai menurun dengan varietas unggul baru.
Varietas seperti Impari 32, Impari 42, dan varietas hibrida seperti Mapan serta Sembada dianggap mampu menghasilkan hasil panen yang lebih tinggi.
Produktivitas padi Sumenep yang saat ini berkisar pada angka rata-rata 5,9 ton per hektare diharapkan dapat naik menjadi sekitar 6,5 ton per hektare melalui penggunaan varietas unggulan tersebut.
Peningkatan produktivitas ini diyakini akan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ketersediaan beras di daerah.
Strategi kedua berfokus pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Para penyuluh mendorong petani untuk meningkatkan intensitas tanam dari sebelumnya hanya satu kali menjadi dua kali dalam setahun.
Beberapa kecamatan bahkan telah memiliki kemampuan untuk menanam hingga tiga kali dalam setahun, menunjukkan bahwa percepatan tanam semakin dapat dilakukan.
Berdasarkan data 2025, capaian IP baru berada pada angka 14 persen dari LBS.
Namun, pada tahun 2026, ditargetkan meningkat drastis menjadi 30 hingga 40 persen.
Kenaikan IP ini dinilai dapat mendorong peningkatan produksi beras Sumenep secara signifikan karena luas panen yang tersedia menjadi lebih besar tanpa harus mengandalkan pembukaan lahan baru secara besar-besaran.
Upaya yang dilakukan penyuluh pertanian di Sumenep menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan daerah membutuhkan kolaborasi antara petani, penyuluh, dan dukungan kelembagaan pemerintah daerah.
Pendekatan yang dilakukan secara simultan—mulai dari perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, hingga intensifikasi pertanaman—diproyeksikan mampu memperkuat posisi Sumenep sebagai salah satu daerah penopang pangan di Jawa Timur.
Dengan langkah yang terarah dan terukur, target swasembada pangan berkelanjutan pada 2026 diyakini dapat tercapai.***











