Sumenep Genjot Perluasan Tanam Padi 2025–2026 untuk Perkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Wednesday, 19 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

UMKMJATIM.COM – Upaya memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sumenep kembali mendapatkan dorongan intensif melalui program perluasan areal tanam padi.

Para penyuluh pertanian di daerah tersebut disebut terus bergerak untuk meningkatkan luas tanam, bahkan di kawasan yang sebelumnya tidak termasuk dalam Luas Baku Sawah (LBS).

Koordinator Jabatan Fungsional (KJF) Penyuluh Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Dewo Ringgih, menjelaskan bahwa percepatan penanaman padi di wilayah non-LBS menjadi salah satu fokus utama pendampingan.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan percepatan tanam ini telah berlangsung di beberapa kecamatan seperti Dasuk, Batang-Batang, dan Dungkek.

Upaya tersebut dikatakan dilakukan sebagai strategi jangka menengah untuk menjaga capaian swasembada pangan pada tahun 2025 sekaligus memastikan target swasembada berkelanjutan tercapai pada 2026.

Baca Juga :  Teknologi Greenhouse di Sumenep Dorong Pertanian Modern: Perlu Pendekatan Bijak dan Berimbang

Arah kebijakan ini menunjukkan bahwa Sumenep terus memaksimalkan sumber daya lahan yang ada, termasuk lahan kering dan lahan tadah hujan yang berpotensi ditanami padi melalui teknologi budidaya modern.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga ketersediaan pangan, terutama ketika tantangan perubahan iklim dan fluktuasi musim semakin terasa.

Dewo menilai bahwa perluasan areal tanam akan menjadi pilar penting dalam menjamin ketersediaan beras pada tahun mendatang.

Selain langkah perluasan lahan, penyuluh pertanian juga mengarahkan perhatian pada tiga strategi prioritas untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah.

Strategi pertama berkaitan dengan peningkatan produktivitas padi.

Para penyuluh di berbagai kecamatan mendorong petani mengganti varietas lama yang hasilnya mulai menurun dengan varietas unggul baru.

Varietas seperti Impari 32, Impari 42, dan varietas hibrida seperti Mapan serta Sembada dianggap mampu menghasilkan hasil panen yang lebih tinggi.

Baca Juga :  Kementerian BUMN Dorong Koperasi Merah Putih Sebagai Penopang Ketahanan Pangan Nasional

Produktivitas padi Sumenep yang saat ini berkisar pada angka rata-rata 5,9 ton per hektare diharapkan dapat naik menjadi sekitar 6,5 ton per hektare melalui penggunaan varietas unggulan tersebut.

Peningkatan produktivitas ini diyakini akan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ketersediaan beras di daerah.

Strategi kedua berfokus pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Para penyuluh mendorong petani untuk meningkatkan intensitas tanam dari sebelumnya hanya satu kali menjadi dua kali dalam setahun.

Beberapa kecamatan bahkan telah memiliki kemampuan untuk menanam hingga tiga kali dalam setahun, menunjukkan bahwa percepatan tanam semakin dapat dilakukan.

Berdasarkan data 2025, capaian IP baru berada pada angka 14 persen dari LBS.

Baca Juga :  PLN Wujudkan Ketahanan Pangan dan Akses Air Bersih di Ponorogo dan Probolinggo Sambut HUT RI ke-80

Namun, pada tahun 2026, ditargetkan meningkat drastis menjadi 30 hingga 40 persen.

Kenaikan IP ini dinilai dapat mendorong peningkatan produksi beras Sumenep secara signifikan karena luas panen yang tersedia menjadi lebih besar tanpa harus mengandalkan pembukaan lahan baru secara besar-besaran.

Upaya yang dilakukan penyuluh pertanian di Sumenep menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan daerah membutuhkan kolaborasi antara petani, penyuluh, dan dukungan kelembagaan pemerintah daerah.

Pendekatan yang dilakukan secara simultan—mulai dari perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, hingga intensifikasi pertanaman—diproyeksikan mampu memperkuat posisi Sumenep sebagai salah satu daerah penopang pangan di Jawa Timur.

Dengan langkah yang terarah dan terukur, target swasembada pangan berkelanjutan pada 2026 diyakini dapat tercapai.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari
Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing
Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru
Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru
Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah
Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu
Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Kediri, Khofifah Turun Tangan Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha 2026 Sepi Pembeli, Pedagang Hewan Kurban di Malang Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 11:53 WIB

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari

Tuesday, 26 May 2026 - 08:51 WIB

Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing

Monday, 25 May 2026 - 19:48 WIB

Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru

Monday, 25 May 2026 - 15:38 WIB

Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru

Monday, 25 May 2026 - 11:48 WIB

Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah

Berita Terbaru