DKPP Sumenep Dorong Peningkatan Produksi Padi Lewat Metode SRI di Desa Baraji

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Saturday, 29 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UMKMJATIM.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan daerah melalui inovasi dan pendampingan teknologi pertanian.

Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan gerakan tanam padi yang dilaksanakan di Desa Baraji, Kecamatan Gapura.

Dalam agenda ini, DKPP berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gapura serta melibatkan Kelompok Tani Maju Jaya sebagai peserta utama yang mendapatkan pendampingan.

Gerakan tanam ini difokuskan pada penerapan metode System of Rice Intensification (SRI),

sebuah pendekatan modern dalam budidaya padi yang cukup populer karena mampu meningkatkan hasil panen secara signifikan tanpa harus menambah luas lahan.

Metode SRI dikenal sebagai teknologi ramah lingkungan dengan penggunaan air, bibit, dan input tanam yang lebih efisien, sehingga cocok diterapkan pada berbagai kondisi lahan pertanian di daerah.

Baca Juga :  Petani Milenial Sumenep Belajar Pasar Lelang Online ke Sleman, Siap Terapkan Digitalisasi Pertanian

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menegaskan bahwa SRI memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh metode tanam konvensional.

Salah satu poin terpenting adalah penggunaan bibit berusia muda. Dalam metode SRI, petani dianjurkan untuk menanam bibit pada usia sekitar 15 hari setelah sebar (HSS).

Bibit yang masih muda memiliki kemampuan adaptasi lebih baik serta potensi pertumbuhan yang lebih tinggi, sehingga mampu menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan produktif.

Menurut Chainur Rasyid, penanaman bibit muda bukan hanya mempercepat masa adaptasi tanaman, tetapi juga meningkatkan jumlah anakan yang tumbuh. Dengan anakan yang lebih banyak, potensi produksi gabah juga meningkat.

Hal ini berbeda dengan pola tanam yang selama ini banyak digunakan petani, yaitu menanam bibit berusia sekitar 30 HSS, yang umumnya menghasilkan jumlah anakan lebih terbatas.

Baca Juga :  Ramadan, Momen Emas bagi Pengusaha Reparasi Sofa di Sumenep

Ia menjelaskan bahwa bibit yang dipindahkan pada usia muda akan tumbuh lebih cepat dan kuat karena tidak mengalami stres yang berat saat proses tanam ulang.

Ketika bibit sudah tertanam di lahan sawah, tanaman mampu menghasilkan anakan produktif dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Inilah yang membuat metode SRI menjadi salah satu teknologi andalan dalam meningkatkan produktivitas pertanian tanpa membebani petani dengan biaya tambahan yang tinggi.

Dengan adanya pendampingan langsung dari penyuluh pertanian di lapangan, para petani dari Kelompok Tani Maju Jaya di Desa Baraji diharapkan mampu memahami dan menerapkan teknik budidaya SRI secara optimal.

DKPP percaya bahwa keterlibatan aktif petani merupakan kunci utama keberhasilan peningkatan hasil panen di Sumenep.

Baca Juga :  Warga Sumenep Raup Rp24 Juta per Tahun dari Lahan Tidur yang Disulap Jadi Usaha Rumput Pakan Ternak

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemerintah daerah dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.

Melalui pemanfaatan teknologi pertanian modern seperti SRI, sektor pertanian diharapkan mampu berkembang lebih maju, produktif, dan adaptif terhadap tantangan zaman.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana
Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan
Ekspor Perdana Solar Glass dari KEK Gresik Tembus Pasar India, Bukti Kebangkitan Industri Hijau RI
Telur Kini Turun Jadi Rp28.500/kg! Satgas Pangan Polres Mojokerto Pantau Harga Bapokting di Pasar Raya Mojosari
Cuan Belasan Juta! Petani Lumajang Raup Untung dari Manisnya Golden Melon
Lontong Ludes dalam Sehari! Kampung Lontong Surabaya Panen Order Saat Cap Go Meh
Permintaan Minyakita Melonjak! Bulog Kediri Salurkan 557.244 Liter Selama Ramadhan 2026

Berita Terkait

Friday, 6 March 2026 - 20:50 WIB

Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau

Friday, 6 March 2026 - 14:44 WIB

Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana

Friday, 6 March 2026 - 11:40 WIB

Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan

Thursday, 5 March 2026 - 11:23 WIB

Ekspor Perdana Solar Glass dari KEK Gresik Tembus Pasar India, Bukti Kebangkitan Industri Hijau RI

Thursday, 5 March 2026 - 11:20 WIB

Telur Kini Turun Jadi Rp28.500/kg! Satgas Pangan Polres Mojokerto Pantau Harga Bapokting di Pasar Raya Mojosari

Berita Terbaru