UMKMJATIM.COM – Pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sering menjadi pilihan utama bagi pelaku UMKM yang membutuhkan modal kerja dengan bunga ringan.
Namun tidak sedikit pemohon yang mengalami penolakan meski merasa telah memenuhi syarat dasar.
BRI menggunakan sistem penilaian berlapis untuk memastikan kredit disalurkan kepada usaha produktif yang benar-benar layak.
Karena itu, pemahaman mengenai faktor penyebab penolakan sangat penting agar calon debitur dapat melakukan perbaikan sebelum mengajukan ulang.
Salah satu penyebab paling umum adalah riwayat kredit yang tidak baik.
Dalam proses verifikasi, BRI melakukan pengecekan melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK).
Jika ditemukan catatan tunggakan, keterlambatan pembayaran, atau bahkan pernah mengalami kredit macet, bank langsung mengategorikan pengajuan sebagai berisiko tinggi.
Catatan seperti ini menjadi indikator bahwa pemohon mungkin kesulitan memenuhi kewajiban cicilan di masa mendatang.
Selain faktor kredit bermasalah, status usaha juga menentukan kelulusan KUR. BRI mensyaratkan bahwa usaha sudah berjalan minimal enam bulan hingga satu tahun.
Jika usaha baru berdiri, tidak memiliki catatan transaksi, atau tidak menunjukkan aktivitas produktif yang jelas, bank menilai usaha tersebut belum stabil.
Kurangnya bukti operasional seperti foto usaha, laporan sederhana, atau modal kerja yang terlihat berjalan juga sering membuat pengajuan ditolak.
Dokumen yang tidak lengkap atau tidak relevan menjadi faktor penolakan berikutnya.
KTP, Kartu Keluarga, Surat Keterangan Usaha (SKU) atau Nomor Induk Berusaha (NIB) harus valid, terbaca, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Ketidaksesuaian data identitas, alamat yang tidak sama antara dokumen, hingga data usaha yang tidak sinkron dengan lapangan dapat membuat bank menolak permohonan.
BRI sangat ketat dalam memverifikasi keabsahan dan konsistensi dokumen karena hal ini berkaitan dengan proses penilaian risiko.
Kemampuan membayar cicilan juga menjadi aspek yang sangat diperhitungkan.
Bank biasanya menghitung rasio antara pendapatan dan jumlah cicilan yang akan ditanggung.
Jika penghasilan dianggap tidak mencukupi untuk membayar cicilan setiap bulan, maka pengajuan otomatis tidak dapat disetujui.
Penilaian ini dilakukan agar calon peminjam tidak terbebani dan tetap mampu menjalankan usahanya dengan stabil.
Penolakan juga bisa terjadi jika calon pemohon masih memiliki pinjaman aktif dengan kategori kredit komersial di bank lain.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban pinjaman sudah tinggi sehingga bank menilai risiko kredit semakin besar.
BRI ingin memastikan bahwa KUR digunakan sepenuhnya untuk kegiatan usaha produktif, bukan untuk membayar atau menutup utang sebelumnya.
Untuk beberapa jenis KUR yang membutuhkan jaminan tambahan, kesesuaian aset juga menjadi pertimbangan.
Jika nilai aset tidak memadai atau status kepemilikannya tidak jelas, bank dapat menolak pengajuan.
Jaminan tambahan diperlukan untuk memastikan keberlangsungan pembayaran apabila terjadi kondisi tidak terduga.
Agar pengajuan KUR BRI dapat diterima, calon peminjam sebaiknya memastikan seluruh dokumen lengkap, memperbaiki riwayat kredit, menyiapkan bukti aktivitas usaha, dan memastikan penghasilan cukup untuk menutup cicilan.
Dengan persiapan yang matang, peluang persetujuan KUR akan jauh lebih tinggi.***











