UMKMJATIM.COM – Kondisi cuaca yang tak menentu dan curah hujan yang tinggi belakangan ini turut mempengaruhi stabilitas harga komoditas pertanian, terutama cabai rawit.
Menurut data yang dirilis oleh Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri pada Jumat, 4 April 2025, lonjakan harga cabai terjadi cukup signifikan, khususnya untuk jenis Cabai Rawit Merah (CRM).
Varietas cabai rawit seperti Ori 212 dan Brengos 99 yang sebelumnya dijual di angka Rp50.000 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar Rp15.000 menjadi Rp65.000 per kilogram.
Sementara itu, varietas lainnya seperti Asmoro 043 dan Cabai Lokal Kediri yang sebelumnya dibanderol seharga Rp45.000, kini juga mengalami kenaikan menjadi Rp63.000 per kilogram, atau naik sebesar Rp18.000.
Hanya Cabai Prentol atau Tumi 99 yang terpantau masih berada pada harga Rp40.000 per kilogram.
Suyono, selaku Ketua APCI Kabupaten Kediri, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit ini terjadi karena pasokan dari petani menurun drastis akibat curah hujan yang tinggi.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini penyerapan cabai rawit merah hanya terjadi di wilayah Bali dan Mataram dengan volume sekitar 10 ton.
Artinya, distribusi produk mengalami penyempitan pasar karena terbatasnya daerah tujuan pengiriman.
Tak hanya cabai rawit merah, cabai jenis lain juga mengalami perubahan harga.
Untuk Cabai Merah Besar (CMB), varietas Gada MK yang sebelumnya dijual seharga Rp30.000 kini turun Rp5.000 menjadi Rp25.000 per kilogram.
Hal serupa juga terjadi pada varietas Imola yang mengalami penurunan harga dari Rp28.000 menjadi Rp23.000 per kilogram.
Sementara itu, untuk jenis Cabai Merah Keriting (CMK), varietas Boos Tavi dijual seharga Rp25.000 per kilogram, dan varietas Sibad berada pada kisaran Rp23.000 per kilogram.
Namun, penjualan cabai jenis ini sedang mengalami kelesuan.
Pasalnya, distribusi ke wilayah Jabodetabek untuk sementara tidak dilakukan, dan sektor industri yang biasanya menyerap hasil panen juga sedang dalam masa libur.
Bahkan pengiriman ke Kalimantan pun dilaporkan tidak ada.
Dalam hal pasokan, cabai rawit merah yang beredar di pasar saat ini sebagian besar berasal dari wilayah lokal seperti Kediri dan Blitar, dengan total pasokan mencapai 22 ton.
Sedangkan untuk cabai merah besar, distribusi utamanya berasal dari daerah Kediri, Jombang, dan Tuban, dengan jumlah total 12 ton.
Cabai merah keriting yang beredar diketahui berasal dari Kediri dan Blitar, dengan jumlah pasokan sekitar 3 ton.
Fenomena cuaca ini menunjukkan betapa pentingnya kestabilan iklim terhadap harga komoditas, terutama yang bergantung pada hasil pertanian segar seperti cabai.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan kepada petani, baik dalam bentuk perlindungan harga maupun kebijakan distribusi yang dapat menekan gejolak harga di tengah kondisi cuaca ekstrem.***