UMKMJATIM.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro merilis perkembangan terbaru mengenai Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di wilayahnya.
Data yang dipaparkan pada Selasa (4/11/2025) ini menggambarkan bagaimana dinamika inflasi dan sektor pariwisata saling memengaruhi kondisi ekonomi daerah.
Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa inflasi di daerah tidak hanya dipicu oleh faktor global, tetapi juga karena peningkatan konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan pangan menjelang akhir tahun.
Menurutnya, kenaikan harga emas dan telur ayam menjadi dua faktor dominan yang mendorong inflasi selama 2025.
“Pergerakan harga emas dunia cukup signifikan tahun ini, dan bersamaan dengan meningkatnya permintaan telur ayam di pasar lokal. Dua faktor ini menjadi pemicu utama kenaikan inflasi di Bojonegoro,” ujar Syawaluddin dalam konferensi pers.
Ia menambahkan bahwa tren kenaikan harga bahan pangan memang sudah terlihat sejak pertengahan tahun.
Peningkatan konsumsi masyarakat sejalan dengan berbagai program pemerintah daerah, seperti kegiatan ekonomi berbasis UMKM dan event pariwisata, yang turut menambah kebutuhan bahan pokok di pasar.
Berdasarkan data BPS, inflasi month-to-month (mtm) pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,31 persen, menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara moderat dibanding bulan sebelumnya.
Meski sempat mengalami deflasi pada Februari 2025, laju inflasi kembali meningkat secara bertahap.
Secara year-to-date (ytd), inflasi kumulatif dari Januari hingga Oktober 2025 mencapai 2,08 persen, dipicu oleh naiknya harga telur dan daging ayam ras.
Sementara secara year-on-year (yoy), inflasi Oktober 2025 dibandingkan Oktober 2024 berada di level 3,14 persen.
Kelompok beras, makanan dan minuman olahan, serta tembakau tercatat sebagai penyumbang terbesar inflasi tahunan di Bojonegoro.
“Posisi inflasi kita masih stabil dan dalam batas wajar. Angkanya masih terkendali jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi nasional,” jelas Syawaluddin.
Selain inflasi, BPS Bojonegoro juga mencatat perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel yang menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut data sementara, TPK hotel pada triwulan III tahun 2025 mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya, seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat dan meningkatnya agenda wisata daerah.
Peningkatan ini, kata Syawaluddin, menandakan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif mulai kembali bergeliat pascapandemi.
Kondisi tersebut diharapkan mampu memberikan multiplier effect terhadap sektor lain seperti perdagangan, transportasi, dan jasa makanan.
Dalam kesempatan itu, BPS Bojonegoro juga menekankan pentingnya pemanfaatan data statistik sebagai dasar perumusan kebijakan publik dan perencanaan ekonomi daerah.
Dengan data yang akurat, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih efektif dan berbasis bukti.
“Kami berharap masyarakat dan instansi pemerintah bisa memanfaatkan data statistik secara optimal. Dengan pemahaman yang baik terhadap kondisi ekonomi lokal, setiap kebijakan dan keputusan usaha bisa lebih tepat sasaran,” tutur Syawaluddin.
Dengan kondisi inflasi yang masih stabil dan sektor pariwisata yang menunjukkan tanda pemulihan, perekonomian Bojonegoro diproyeksikan tumbuh lebih positif pada akhir tahun 2025.***











