UMKMJATIM.COM – Menjelang akhir tahun 2025, kenaikan harga bahan pangan kembali menjadi perhatian besar masyarakat di Jawa Timur.
Fenomena ini bukan hal yang terjadi secara mendadak, melainkan pola musiman yang telah berulang sejak tahun 2022.
Setiap memasuki triwulan terakhir, permintaan terhadap berbagai komoditas meningkat tajam, sementara stok dan distribusi kadang tidak mampu mengimbangi kebutuhan pasar.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Debora Sulistya Rini, menegaskan bahwa siklus inflasi menjelang pergantian tahun merupakan gejala yang terus berulang dan harus diantisipasi secara serius oleh seluruh pihak.
Menurutnya, lonjakan harga pangan di periode ini berkaitan erat dengan tingginya konsumsi masyarakat, terutama menjelang masa liburan Natal dan Tahun Baru.
“Kenaikan harga pangan pada akhir tahun bukan hal baru. Banyak komoditas memiliki pola musiman yang membuatnya rentan mengalami lonjakan. Karena itu, penguatan pasokan dan stabilisasi harga harus selalu menjadi prioritas,” jelas Debora, Minggu (7/12/2025).
Jika melihat pola tahun-tahun sebelumnya, beberapa komoditas utama yang rutin memberikan andil terbesar terhadap inflasi adalah cabai rawit, cabai merah besar, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga minyak goreng.
Komoditas tersebut termasuk bahan kebutuhan pokok dengan konsumsi tinggi, sehingga perubahan kecil pada stok atau distribusi dapat menyebabkan dampak besar pada harga pasar.
Data terbaru dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur menunjukkan bahwa harga sejumlah komoditas kembali mengalami peningkatan cukup signifikan.
Cabai rawit, misalnya, hari ini tercatat memiliki rata-rata harga Rp73.304 per kilogram.
Di beberapa daerah, harga bahkan melambung jauh. Kabupaten Ngawi menjadi wilayah dengan harga cabai rawit tertinggi, mencapai Rp90.000 per kilogram.
Untuk komoditas cabai merah besar, harga rata-rata berada di angka Rp46.384 per kilogram. Kota Malang menjadi daerah dengan harga tertinggi yang tercatat mencapai Rp57.500 per kilogram.
Kenaikan ini dianggap sangat berpengaruh terhadap inflasi, mengingat cabai merupakan salah satu bahan masakan yang memiliki permintaan tinggi setiap harinya.
Bawang merah juga menunjukkan kenaikan harga dengan rata-rata Rp46.087 per kilogram. Kabupaten Banyuwangi mencatat harga tertinggi, yakni Rp55.333 per kilogram.
Di sisi lain, daging ayam ras yang menjadi konsumsi harian masyarakat juga mengalami peningkatan.
Harga rata-rata komoditas ini hari ini berada di angka Rp36.527 per kilogram, dengan Kabupaten Sumenep sebagai wilayah dengan harga tertinggi yaitu Rp41.000 per kilogram.
Sama halnya dengan daging ayam, telur ayam ras juga tidak luput dari tren kenaikan.
Harga rata-rata telur berada di kisaran Rp28.115 per kilogram, sedangkan di Kabupaten Gresik, harga tertinggi tercatat menyentuh Rp29.333 per kilogram.
Kenaikan harga telur ini dirasakan cukup berat oleh pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan dan UMKM kuliner.
Minyak goreng curah, komoditas yang sangat vital bagi dapur rumah tangga maupun industri kecil, memiliki rata-rata harga Rp18.716 per liter.
Kabupaten Pasuruan mencatat harga tertinggi sebesar Rp20.500 per liter, menunjukkan adanya tekanan cukup besar pada kebutuhan pangan menjelang akhir tahun.
Debora menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu memperkuat langkah mitigasi inflasi secara lebih terukur.
Upaya seperti operasi pasar, pemantauan stok, serta penguatan rantai pasok menjadi strategi penting agar kenaikan harga dapat ditekan dan tidak menimbulkan beban berlebih bagi masyarakat.
Pemerintah juga diharapkan mampu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pelaku distribusi dan petani, untuk menjaga stabilitas harga selama musim kenaikan seperti ini.
Dengan pola kenaikan harga yang selalu berulang setiap akhir tahun, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada dan melakukan perencanaan kebutuhan secara bijak.
Ketersediaan informasi dan antisipasi sejak awal diharapkan dapat membantu mengurangi dampak inflasi musiman di Jawa Timur.***











