Pisang Emas Kirana Pundungsari Terkena Imbas Harga Anjlok, Petani Lumajang Harap Dukungan Pemerintah

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Thursday, 13 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UMKMJATIM.COM – Desa Pundungsari, yang berada di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil Pisang Emas Kirana dengan kualitas terbaik di Jawa Timur.

Setiap minggunya, puluhan truk pengangkut hasil panen dari Dusun Sukosari dan daerah sekitarnya berangkat menuju kota besar seperti Surabaya, Malang, hingga Jakarta, membawa hasil bumi unggulan yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

Selain Pisang Emas Kirana, warga Pundungsari juga membudidayakan jenis pisang lain seperti Pisang Ambon dan Pisang Candi.

Kombinasi ketiga varietas tersebut menjadikan wilayah ini sebagai salah satu produsen pisang terbesar di bagian utara Lumajang.

Berdasarkan data Pemerintah Desa, luas lahan pisang yang dikelola masyarakat mencapai sekitar 50 hektare, dengan total produksi rata-rata tiga ton per minggu.

Namun, di balik produktivitas tinggi itu, para petani kini sedang menghadapi tantangan berat akibat turunnya harga jual pisang di pasaran.

Baca Juga :  Optimalisasi Peran BUMDes Torbang untuk Wujudkan Kemandirian Ekonomi

Harga Pisang Emas Kirana grade A yang biasanya bisa mencapai Rp8.000 per kilogram, kini merosot hingga Rp4.000 per kilogram di tingkat petani.

Kondisi ini membuat banyak petani kesulitan menutupi biaya operasional harian, terutama untuk pupuk, tenaga kerja, dan transportasi hasil panen.

Salah satu petani sekaligus Sekretaris Desa Pundungsari, Abdul Rohman, mengungkapkan bahwa anjloknya harga membuat para petani harus berpikir keras agar tetap bisa bertahan.

Ia menjelaskan bahwa hasil panen kali ini terpaksa dijual dengan harga murah kepada tengkulak karena tidak ada pilihan lain. “Harga pisang turun drastis.

Biasanya bisa delapan ribu per kilo, sekarang hanya empat ribu. Kami tetap harus menjual karena pisang tidak bisa disimpan lama,” tuturnya.

Baca Juga :  474 Koperasi Merah Putih Diluncurkan, Lamongan Mantapkan Ekonomi Desa Berbasis Gotong Royong

Fenomena turunnya harga ini ternyata tidak hanya terjadi di Pundungsari, tetapi juga meluas ke beberapa kecamatan lain di Lumajang yang dikenal sebagai daerah penghasil pisang.

Penurunan permintaan dari pasar luar daerah serta terbatasnya jalur distribusi menjadi faktor utama yang menyebabkan harga di tingkat petani terus melemah.

Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya intervensi pemerintah daerah dalam memperkuat akses pasar dan branding komoditas lokal.

Dukungan promosi dan pengembangan rantai distribusi menjadi kunci agar Pisang Emas Kirana tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional bahkan ekspor.

Menanggapi situasi ini, Ahmad Fauzi, Kepala Seksi Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen membantu petani Pundungsari untuk memperluas jaringan pemasaran.

Menurutnya, pemerintah daerah akan memfasilitasi pertemuan antara kelompok tani dan pembeli dari luar daerah sebagai langkah konkret menstabilkan harga. “Pundungsari punya potensi besar.

Baca Juga :  Ubaya Dorong Tata Kelola BUMDes yang Berkelanjutan Lewat Seminar Nasional

Kami akan bantu dalam promosi dan pemasaran agar petani mendapatkan harga jual yang lebih layak,” ujarnya.

Selain membuka akses pasar, pemerintah juga tengah menyiapkan program pelatihan dan pendampingan bagi petani pisang.

Langkah ini bertujuan agar para petani mampu meningkatkan mutu dan nilai tambah produk melalui proses pascapanen seperti pengemasan modern dan diversifikasi olahan pisang.

Dengan potensi lahan yang luas dan dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat berharap Pisang Emas Kirana Pundungsari bisa kembali menjadi ikon unggulan Lumajang yang tidak hanya dikenal karena rasanya yang manis, tetapi juga karena keberhasilan petaninya menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak
Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak
Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam
Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan
Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen
Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana
Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan

Berita Terkait

Monday, 9 March 2026 - 19:39 WIB

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak

Monday, 9 March 2026 - 15:41 WIB

Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak

Saturday, 7 March 2026 - 20:29 WIB

Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam

Saturday, 7 March 2026 - 16:34 WIB

Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan

Saturday, 7 March 2026 - 15:36 WIB

Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen

Berita Terbaru