APBD Bondowoso 2026 Disepakati Turun, Pemkab Diminta Genjot PAD Tanpa Membebani Masyarakat

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Tuesday, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UMKMJATIM.COM – Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) akhirnya mencapai kesepakatan terkait Rancangan Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Raperda APBD) Tahun 2026.

Kesepakatan tersebut menandai langkah penting dalam proses perencanaan pembangunan daerah untuk satu tahun mendatang.

Dalam raperda yang telah dibahas secara intensif itu, tercatat bahwa total APBD Bondowoso Tahun 2026 mencapai lebih dari Rp 1,9 triliun.

Besaran anggaran tersebut mengalami penurunan dibanding tahun anggaran sebelumnya.

Pada tahun 2025, APBD Bondowoso sempat menembus angka lebih dari Rp 2,1 triliun, menunjukkan adanya selisih yang cukup signifikan.

Penurunan anggaran ini bukan tanpa sebab. Berbagai dinamika baik di level global, nasional, maupun lokal berpotensi memengaruhi kemampuan fiskal daerah.

Baca Juga :  Job Fair 2025 Sumenep: Disnaker Buka 3.000 Lowongan Kerja dari 36 Perusahaan

Perubahan kondisi ekonomi, penyesuaian kebijakan pemerintah, hingga evaluasi belanja daerah menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam penyusunan raperda.

Penyesuaian APBD 2026 juga menggambarkan bahwa pemerintah daerah perlu lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas pembangunan.

Dengan kapasitas fiskal yang menurun, Pemkab Bondowoso harus memastikan setiap program yang direncanakan benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Upaya penyelarasan anggaran ini diharapkan dapat menjaga stabilitas keuangan sekaligus menjamin keberlanjutan program strategis daerah.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, menyampaikan dorongan kepada Pemkab agar lebih proaktif dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ia menekankan bahwa pencarian sumber PAD harus dilakukan dengan bijak.

Artinya, setiap langkah meningkatkan pendapatan daerah harus mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, sehingga tidak menambah beban baru.

Baca Juga :  Gerbangmas Desa Jatigono Ikuti Bimtek P2B untuk Wujudkan Pekarangan Bergizi dan Produktif

Menurutnya, PAD dapat ditingkatkan melalui optimalisasi aset, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemanfaatan potensi sektor ekonomi kreatif, serta perbaikan tata kelola pajak dan retribusi.

Selain menggali potensi PAD, Ahmad Dhafir menekankan pentingnya melakukan efisiensi anggaran di semua lini.

Efisiensi bukan hanya sekadar memotong anggaran, tetapi memastikan setiap rupiah dalam APBD digunakan secara tepat sasaran, transparan, dan berorientasi pada hasil.

Ia menyoroti bahwa efisiensi anggaran dapat membantu pemerintah menjaga ruang fiskal tetap sehat meski terjadi penurunan pendapatan.

Efisiensi belanja juga menjadi langkah strategis untuk mengantisipasi risiko ketidakpastian ekonomi di tahun mendatang.

Dengan pengelolaan anggaran yang lebih baik, Pemkab Bondowoso diharapkan mampu tetap melaksanakan program prioritas seperti peningkatan layanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Pemuda Sampang Bangkitkan Semangat Bertani dan Budidaya Ikan Lewat Gerakan Pangan Mandiri

Hal ini penting agar pembangunan daerah tetap berjalan meski ruang fiskal lebih terbatas.

Kesepakatan antara Pemkab dan DPRD mengenai Raperda APBD 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun Bondowoso yang lebih maju.

Dengan kemampuan fiskal yang menurun, diperlukan kolaborasi yang lebih kuat, mulai dari perumusan kebijakan, pengawasan, hingga pelaksanaan program di lapangan.

Melalui strategi peningkatan PAD yang berkeadilan dan efisiensi belanja yang konsisten, Bondowoso diharapkan mampu tetap tumbuh dan memberikan pelayanan optimal bagi seluruh masyarakat.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak
Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak
Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam
Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan
Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen
Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana
Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan

Berita Terkait

Monday, 9 March 2026 - 19:39 WIB

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak

Monday, 9 March 2026 - 15:41 WIB

Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak

Saturday, 7 March 2026 - 20:29 WIB

Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam

Saturday, 7 March 2026 - 16:34 WIB

Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan

Saturday, 7 March 2026 - 15:36 WIB

Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen

Berita Terbaru