Kampung Lontong di Banyu Urip Lor, Surabaya menjadi sorotan publik menjelang dan saat perayaan Cap Go Meh 2026, setelah lonjakan pesanan lontong tradisional yang signifikan terjadi di kawasan tersebut.
Permintaan lontong Cap Go Meh dilaporkan meningkat tajam, bahkan mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding biasanya.
Perayaan Cap Go Meh, yang merupakan malam ke-15 Tahun Baru Imlek, identik dengan sajian lontong sebagai bagian dari budaya kuliner masyarakat.
Tradisi ini menjadi momentum utama bagi para perajin lontong di Kampung Lontong untuk memenuhi permintaan pasar yang melonjak drastis.
Salah satu produsen lontong, Lisnur, menyebut bahwa biasanya produksi harian lontong hanya mencapai sekitar 18–20 keranjang. Namun pada momen Cap Go Meh ini, jumlahnya meningkat pesat menjadi 45 keranjang pada satu hari, dan masih tinggi sepanjang hari puncak perayaan.
“Kalau hari biasa kita bikin 18 sampai 20 keranjang. Tapi kalau Cap Go Meh ini bisa dua sampai tiga kali lipat,” ujar Lisnur kepada detikJatim, Selasa (3/3/2026).
Permintaan ini sudah datang sejak dua hari sebelum perayaan, dengan puncaknya tepat di hari Cap Go Meh. Selain lontong kecil yang biasa dijual sekitar Rp 1.300–Rp 1.500 per buah, lontong ukuran besar yang dijual sekitar Rp 3.000 per buah juga turut diburu pembeli di pasar tradisional seperti Pasar Banyu Urip, Pasar Genteng Kali, dan Pasar Pakis.
Tak hanya satu atau dua produsen, hampir seluruh warga Kampung Lontong merasakan dampak lonjakan pesanan ini. Salah seorang warga, Mutiana, mengatakan bahwa tradisi produksi lontong di kampung tersebut sering kali membuat mereka harus bekerja tanpa henti, bahkan bangun sejak dini hari dan menyelesaikan proses produksi hingga menjelang pagi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan seksi kuliner lokal yang hidup, tetapi juga bagaimana tradisi budaya seperti Lontong Cap Go Meh menjadi bagian penting dari heritage kuliner yang terus lestari di Surabaya.











