Pelemahan nilai tukar rupiah yang dikabarkan menyentuh level Rp17.646 per dolar AS memicu kekhawatiran dari kalangan pelaku usaha. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendesak pemerintah untuk mengambil langkah cepat melalui realokasi anggaran agar dampak ekonomi tidak semakin meluas, terutama terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Nilai tukar rupiah yang terus tertekan memang tengah menjadi perhatian pelaku pasar dan dunia usaha dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi industri, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan beban operasional juga dikhawatirkan memengaruhi kemampuan perusahaan mempertahankan tenaga kerja.
Kadin Jatim Minta Pemerintah Ambil Langkah Cepat
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menilai pemerintah perlu melakukan langkah antisipatif agar tekanan ekonomi tidak berujung pada pengurangan tenaga kerja dalam skala besar.
“Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret. Salah satunya dengan realokasi anggaran KDMP agar bisa diarahkan pada program yang lebih mendesak untuk menjaga industri dan mencegah PHK,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membutuhkan respons yang cepat karena pelemahan rupiah akan memberikan tekanan berlapis kepada sektor usaha, terutama industri manufaktur dan sektor padat karya.
Sektor Industri Dikhawatirkan Tertekan
Pelemahan kurs rupiah berpotensi meningkatkan harga bahan baku dan biaya logistik. Situasi tersebut dapat memicu kenaikan biaya produksi dan mempersempit margin keuntungan perusahaan.
Bila tekanan berlangsung dalam jangka panjang, sejumlah perusahaan dikhawatirkan melakukan efisiensi operasional, termasuk pengurangan tenaga kerja.
Kadin Jatim menilai langkah pencegahan harus dilakukan sejak awal agar sektor industri tetap dapat menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan ekonomi global.
Realokasi Anggaran Dinilai Perlu Dikaji
Usulan realokasi anggaran KDMP muncul di tengah perdebatan mengenai alokasi anggaran pemerintah untuk berbagai program prioritas. Sejumlah pihak sebelumnya juga menyoroti pengelolaan dan distribusi anggaran yang dinilai perlu lebih adaptif terhadap kondisi ekonomi aktual.
Menurut Kadin Jatim, fokus utama pemerintah saat ini seharusnya diarahkan pada upaya menjaga keberlangsungan industri nasional serta mempertahankan lapangan kerja.
Ancaman Ekonomi Global Perlu Diantisipasi
Tekanan terhadap rupiah juga disebut dipengaruhi berbagai faktor global seperti penguatan dolar AS, dinamika harga energi, serta ketidakpastian geopolitik internasional. Kondisi ini membuat pelaku usaha berharap adanya kebijakan yang dapat menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Dunia usaha berharap pemerintah dapat segera merumuskan kebijakan yang tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memastikan iklim usaha tetap kondusif agar aktivitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja dapat terus berjalan.











