Cuaca Ekstrem Ancam Produksi Bunga Potong di Kota Batu

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Sunday, 9 February 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

UMKMJATIM.COM – Cuaca ekstrem yang melanda Kota Batu dalam beberapa waktu terakhir memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, termasuk pada budidaya bunga potong.

Para petani di daerah tersebut mengalami kesulitan dalam mempertahankan hasil panen mereka akibat curah hujan yang tinggi.

Ninik Arifah, seorang petani bunga potong di Desa Gunungsari, mengungkapkan bahwa hasil panennya mengalami penurunan drastis akibat hujan yang terus-menerus mengguyur wilayah tersebut.

Ia menjelaskan bahwa bunga potong, terutama mawar, cenderung tumbuh lebih baik saat musim panas.

Namun, kondisi cuaca yang terlalu basah justru menyebabkan banyak tanaman gagal panen.

Dalam kondisi normal, dari sekitar 30 ribu batang bunga yang dimilikinya, Ninik biasanya mampu memperoleh sekitar 5.000 hingga 6.000 tangkai bunga setiap kali panen.

Namun, akibat cuaca ekstrem, jumlah tersebut berkurang menjadi hanya sekitar 2.000 hingga 3.000 tangkai per panen. Ia menambahkan bahwa di kebunnya, panen biasanya dilakukan tiga kali dalam seminggu.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Bahan Pokok di Pasar Keputran Surabaya Jelang Nataru Dipicu Faktor Cuaca

Dengan kondisi seperti sekarang, hasil panen yang didapat jauh dari angka biasanya.

Selain mawar, Ninik juga membudidayakan berbagai jenis bunga lainnya seperti aster, krisan, dan tulip.

Sayangnya, hujan deras yang terjadi terus-menerus membuat sebagian besar tanaman tidak tumbuh dengan baik, sehingga hasil panennya semakin terbatas.

Kesulitan Petani Bunga di Sentra Produksi Kota Batu

Penurunan hasil panen akibat cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan oleh Ninik, tetapi juga oleh banyak petani bunga potong lain di Desa Gunungsari.

Sebagai salah satu sentra produksi bunga terbesar di Kota Batu, mayoritas warga di desa tersebut berprofesi sebagai petani bunga.

Mereka menghadapi permasalahan yang sama, di mana hasil panen mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kondisi normal.

Petani di daerah ini mengeluhkan bahwa berkurangnya jumlah bunga yang bisa dipanen terjadi justru ketika permintaan sedang tinggi.

Momen-momen tertentu seperti perayaan Imlek, Valentine, Hari Ibu, hingga Hari Guru biasanya menjadi waktu di mana permintaan bunga meningkat signifikan. Namun, dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, banyak petani kesulitan memenuhi permintaan pasar.

Baca Juga :  Optimisme OJK Malang: Sektor Keuangan Diproyeksikan Tetap Tumbuh Positif di 2025

Fluktuasi Harga Bunga Potong

Penurunan produksi bunga potong akibat cuaca ekstrem juga berdampak pada harga di pasaran.

Biasanya, harga bunga mawar per batang berkisar antara Rp 800 hingga Rp 1.500.

Namun, saat permintaan meningkat, harga bunga bisa melonjak tajam hingga Rp 2.500 hingga Rp 3.500 per tangkai.

Kondisi ini menciptakan tantangan bagi para petani.

Di satu sisi, harga jual bunga yang lebih tinggi bisa memberikan keuntungan lebih besar, tetapi di sisi lain, keterbatasan jumlah bunga yang bisa dipanen membuat mereka tidak bisa memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Akibatnya, beberapa petani memilih untuk menaikkan harga bunga yang mereka miliki untuk menyesuaikan dengan permintaan yang ada.

Harapan Petani di Tengah Tantangan

Meskipun menghadapi berbagai kendala, para petani bunga potong di Kota Batu tetap berusaha bertahan.

Baca Juga :  Produksi Padi dan Jagung Banyuwangi Naik Tajam, Dorong Ketahanan Pangan Daerah

Mereka berharap kondisi cuaca segera membaik agar produksi bunga kembali normal.

Beberapa petani mulai mencari solusi, seperti membangun rumah kaca atau sistem drainase yang lebih baik untuk mengurangi dampak hujan terhadap tanaman mereka.

Ke depan, petani bunga di daerah ini juga berharap adanya dukungan dari pemerintah atau pihak terkait dalam bentuk bantuan teknologi pertanian yang dapat membantu mereka menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

Dengan adanya solusi yang tepat, mereka optimis bisa kembali meningkatkan produksi bunga potong mereka, terutama di saat permintaan pasar sedang tinggi.

Dengan segala tantangan yang ada, para petani bunga potong di Kota Batu tetap berusaha menjaga keberlanjutan usaha mereka.

Meskipun hasil panen saat ini menurun, mereka berharap bahwa di masa mendatang, produksi bunga potong dapat kembali stabil sehingga dapat memenuhi permintaan pasar dengan lebih baik.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak
Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak
Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam
Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan
Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen
Jelang Lebaran 2026, Pemkab Jombang Gelar Pasar Murah EPIK Mobile: Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Gerobak Cinta Disalahgunakan? Dinas Koperasi Jember Turun Langsung Door to Door, Pelanggar Bisa Dipidana
Babinsa Gresik Turun Langsung ke Kolam Lele Warga, Kisah Roro Fitria Bangkitkan Ekonomi Keluarga Jadi Sorotan

Berita Terkait

Monday, 9 March 2026 - 19:39 WIB

Harga Jagung Anjlok Saat Panen! Petani Sekar Bojonegoro Terpaksa Jual Murah ke Tengkulak

Monday, 9 March 2026 - 15:41 WIB

Konflik Timur Tengah Mengguncang Ekspor Jawa Timur, Biaya Logistik Terancam Melonjak

Saturday, 7 March 2026 - 20:29 WIB

Harga Emas Naik, Pembelian di Pegadaian Banyuwangi Melonjak Tajam

Saturday, 7 March 2026 - 16:34 WIB

Panic Buying BBM Menyebar! Warga Bondowoso dan Situbondo Mulai Serbu SPBU, Hiswanamigas Beri Peringatan

Saturday, 7 March 2026 - 15:36 WIB

Stok Menipis, Harga Bawang Prei di Ponorogo Naik Hingga 50 Persen

Berita Terbaru