Pemkab Bojonegoro Dorong Pertanian Organik: Solusi Ramah Lingkungan dan Menguntungkan Petani

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Monday, 19 May 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

UMKMJATIM.COM – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menunjukkan komitmen serius dalam mendorong pengembangan pertanian padi organik sebagai bagian dari strategi meningkatkan kesejahteraan petani dan pelestarian lingkungan.

Langkah awal yang ditempuh adalah menerapkan kebijakan konsumsi beras organik di lingkungan internal pemerintahan, khususnya di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

Setyo Wahono, Bupati Bojonegoro, menyebutkan bahwa seluruh pegawai DKPP kini diwajibkan mengonsumsi beras organik sebagai bagian dari menu keluarga sehari-hari.

Menurutnya, inisiatif ini bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap pertanian berkelanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan Wahono saat menghadiri kegiatan panen raya padi organik di Desa Sukowati.

Pertanian Organik sebagai Solusi Pertanian Berkelanjutan

Bupati Wahono menyebutkan bahwa pertanian organik memiliki berbagai manfaat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

Salah satu keunggulan utama sistem pertanian ini adalah kemampuannya dalam memperbaiki kualitas tanah.

Dengan menggunakan pupuk alami, ekosistem tanah dapat dipulihkan, kesuburan tanah meningkat, serta keanekaragaman hayati di area pertanian bisa dipertahankan.

Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan pertanian organik di Desa Sambiroto yang difasilitasi melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) Integrated Farming System yang dibina oleh PT Pertamina EP Sukowati Field.

Baca Juga :  BLT Dana Desa Oktober 2025 Tetap Cair: Berikut Penjelasan dan Mekanisme Penyalurannya

Menurut Wahono, dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta, menjadi elemen penting dalam memperluas praktik pertanian ramah lingkungan di daerah tersebut.

Jenis Tanah Bojonegoro Cocok untuk Pertanian Organik

Tanah di Bojonegoro, yang sebagian besar terdiri dari jenis gromosol atau vertisol, sebenarnya sangat subur.

Namun, kondisi tanah tersebut memerlukan perlakuan khusus agar potensi maksimalnya dapat dimanfaatkan.

Dengan penggunaan pupuk organik dan teknik pengolahan lahan yang tepat, produktivitas pertanian di wilayah ini diyakini bisa meningkat secara signifikan.

Langkah peralihan ke pertanian organik juga berdampak langsung terhadap hasil panen.

Dalam panen raya yang dilakukan baru-baru ini, produksi padi organik di Bojonegoro tercatat mencapai 6,5 ton per hektare.

Angka ini jauh di atas rata-rata hasil panen padi konvensional di wilayah tersebut yang hanya berkisar 5,8 ton per hektare.

Efisiensi Biaya Produksi dan Nilai Ekonomi yang Lebih Tinggi

Bukan hanya meningkatkan hasil panen, sistem pertanian organik juga terbukti bisa menekan pembengkakkan biaya produksi.

Baca Juga :  Pasar Legi Ponorogo Kembali Beroperasi Setelah Libur Lebaran

Wahono mengungkapkan bahwa petani dapat menghemat hingga Rp2,5 juta per hektare jika menggunakan sistem ini dibandingkan pertanian konvensional.

Efisiensi tersebut berasal dari penggunaan bahan alami yang lebih murah dan tersedia secara lokal.

Keuntungan tidak hanya berhenti pada sisi efisiensi.

Harga jual beras organik di pasaran, menurut Wahono, bisa mencapai Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Bukan hanya itu, di pasar modern dan pasar ekspor, harganya bisa jauh lebih tinggi lagi.

Ini tentu menjadi angin segar bagi para petani yang selama ini bergantung pada sistem pertanian konvensional dengan harga jual yang lebih rendah.

Wahono juga menyebutkan bahwa petani akan memperoleh keuntungan lebih besar jika menanam varietas khusus padi organik seperti mentik susu, mentik wangi, pandan wangi, dan rojo lele.

Jenis ini memiliki nilai jual lumayan tinggi karena memiliki cita rasa dan juga aroma khas yang sangat diminati oleh konsumen.

Harapan untuk Masa Depan Petani Bojonegoro

Keberhasilan program padi organik ini turut dirasakan oleh masyarakat Desa Sambiroto.

Kepala Desa setempat, Gunawan, menyampaikan rasa syukurnya atas hasil panen yang menggembirakan.

Baca Juga :  Program OPLAH 2025 di Jember Genjot Produktivitas Lahan dan Dorong Target Produksi Padi 1 Juta Ton

Ia berharap, dengan dukungan pemerintah dan harga jual padi organik yang menguntungkan, masyarakat di desanya semakin sejahtera.

Gunawan juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program ini, termasuk memastikan ketersediaan pupuk organik dan akses pelatihan bagi petani.

Ia optimistis pertanian organik dapat menjadi andalan baru bagi petani lokal, terutama dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan fluktuasi harga pangan.

Pengembangan pertanian organik di Bojonegoro tidak hanya menjadi alternatif sistem pertanian yang ramah lingkungan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi petani dari sisi ekonomi.

Dukungan pemerintah, sinergi dengan pihak swasta, serta kebijakan konsumsi beras organik oleh aparatur sipil negara menjadi bagian integral dari strategi transformasi pertanian yang berkelanjutan.

Dengan produktivitas yang tinggi, biaya produksi yang jauh lebih rendah, serta harga jual yang lebih kompetitif, pertanian organik berpotensi menjadi motor penggerak kesejahteraan petani di Bojonegoro.

Upaya ini patut menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan sistem pertanian yang berorientasi pada keberlanjutan dan keadilan ekonomi bagi petani.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari
Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing
Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru
Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru
Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah
Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu
Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Kediri, Khofifah Turun Tangan Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha 2026 Sepi Pembeli, Pedagang Hewan Kurban di Malang Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 11:53 WIB

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari

Tuesday, 26 May 2026 - 08:51 WIB

Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing

Monday, 25 May 2026 - 19:48 WIB

Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru

Monday, 25 May 2026 - 11:48 WIB

Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah

Monday, 25 May 2026 - 11:47 WIB

Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu

Berita Terbaru