Mekanisme Baru Penetapan Penerima Bansos KPDJ 2025: Berbasis DTSEN Tanpa Pendaftaran Mandiri

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Tuesday, 18 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

UMKMJATIM.COM – Program bantuan sosial seperti KPDJ, KLJ, dan KAJ merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada kelompok tertentu yang memenuhi syarat kesejahteraan.

Banyak warga masih mengira bahwa bantuan ini dapat didaftarkan secara langsung, padahal sistem penetapan penerimanya sudah sepenuhnya berubah mengikuti regulasi terbaru dari Kementerian Sosial.

Dalam kebijakan yang berlaku sekarang, pemerintah menegaskan bahwa tidak ada proses pendaftaran mandiri bagi masyarakat untuk mengikuti program bansos tersebut.

Artinya, warga tidak dapat mengajukan diri sebagai penerima melalui formulir, loket, atau pendaftaran online.

Perubahan mekanisme ini sejalan dengan diberlakukannya sistem data kesejahteraan terbaru, yaitu Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Sistem ini menggantikan DTKS yang sebelumnya menjadi acuan dalam penyaluran berbagai program sosial.

Melalui Permensos No. 3 Tahun 2025, DTSEN ditetapkan sebagai basis utama penentuan penerima bansos di seluruh Indonesia, termasuk untuk program seperti KPDJ, KLJ, dan KAJ di DKI Jakarta.

Baca Juga :  BRI Peduli Salurkan Bantuan Tenda dan Kursi untuk Perkuat Kegiatan Sosial Desa di Ponorogo

Dengan demikian, setiap individu atau keluarga akan mendapatkan peringkat kesejahteraan berdasarkan kondisi sosial ekonomi yang terekam dalam data tersebut.

DTSEN bekerja dengan cara mengelompokkan seluruh warga ke dalam desil atau tingkat kesejahteraan tertentu. Semakin rendah desilnya, semakin tinggi kemungkinan warga tersebut memenuhi kriteria penerima bantuan.

Penetapan ini dilakukan menggunakan data yang dikumpulkan secara nasional dan diperbarui secara berkala.

Melalui sistem tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa bantuan diberikan tepat sasaran tanpa memerlukan proses pengajuan oleh warga.

Namun, tidak semua data yang tercantum di DTSEN mencerminkan kondisi keluarga secara akurat.

Dalam sejumlah kasus, ada warga yang merasa datanya tidak merepresentasikan keadaan sebenarnya—misalnya, status ekonomi yang memburuk, perubahan anggota keluarga, atau perpindahan tempat tinggal yang belum tercatat.

Baca Juga :  Banyuwangi Permudah UMKM Urus Hak Kekayaan Intelektual, Biaya Lebih Murah!

Situasi seperti inilah yang sering menimbulkan pertanyaan mengenai mengapa seseorang tidak termasuk sebagai penerima meskipun merasa memenuhi kriteria.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah membuka ruang pemutakhiran data sebagai solusi.

Pemutakhiran akan dilakukan melalui mekanisme yang sedang disiapkan oleh Kementerian Sosial dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Proses ini tidak berupa pendaftaran bansos, tetapi perbaikan data agar status kesejahteraan warga dalam DTSEN sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Setelah data diperbarui, sistem otomatis akan mengurutkan kembali peringkat desil warga sehingga potensi untuk masuk sebagai penerima bansos dapat terbuka.

Pada tahap ini, masyarakat disarankan untuk memastikan bahwa dokumen kependudukan, seperti KTP dan KK, sudah sesuai dan valid.

Baca Juga :  APBD Jatim 2026 Disepakati: Fokus Pendidikan, Kesehatan, dan Kesejahteraan Sosial di Tengah Penurunan Pendapatan

Data identitas yang tidak padan sering menjadi salah satu penyebab seseorang tidak masuk dalam sistem atau tidak terdeteksi secara benar.

Pemerintah daerah biasanya menyediakan layanan pemutakhiran data melalui RT/RW, kelurahan, atau dinas sosial sesuai arahan dari Kemensos.

Mekanisme penetapan penerima bansos yang berbasis DTSEN ini diharapkan dapat menciptakan proses distribusi bantuan yang lebih objektif, transparan, dan merata.

Warga tidak perlu berebut mendaftar, karena seluruh proses penilaian kesejahteraan dilakukan melalui sistem yang telah terintegrasi nasional.

Bagi warga yang datanya belum akurat, pemutakhiran akan menjadi kunci agar hak mereka tercatat dengan benar.

Dengan pendekatan berbasis data ini, pemerintah ingin memastikan bahwa bantuan tepat sasaran dan menjangkau mereka yang paling membutuhkan.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari
Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing
Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru
Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru
Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah
Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu
Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Kediri, Khofifah Turun Tangan Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha 2026 Sepi Pembeli, Pedagang Hewan Kurban di Malang Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 11:53 WIB

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari

Tuesday, 26 May 2026 - 08:51 WIB

Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing

Monday, 25 May 2026 - 19:48 WIB

Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru

Monday, 25 May 2026 - 11:48 WIB

Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah

Monday, 25 May 2026 - 11:47 WIB

Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu

Berita Terbaru