Perubahan Iklim Uji Ketahanan Pangan Nasional, Distribusi dan Teknologi Jadi Kunci

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Tuesday, 16 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UMKMJATIM.COM – Perubahan iklim yang kian tidak menentu di berbagai wilayah Indonesia menjadi tantangan serius bagi petani dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

Curah hujan ekstrem, pergeseran musim, hingga gelombang panas berdampak langsung pada pola tanam dan hasil panen.

Dalam kondisi ini, ketahanan pangan dinilai tidak bisa hanya diukur dari besarnya angka produksi, melainkan juga dari kelancaran distribusi serta keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Direktur Paskomnas Indonesia, Ir. Soekam Parwadi, menilai bahwa data surplus pangan secara nasional belum tentu menggambarkan kondisi riil di lapangan.

Menurutnya, klaim surplus beras puluhan juta ton perlu diikuti dengan kejelasan lokasi stok dan mekanisme distribusi yang efektif.

Tanpa sistem distribusi yang baik, surplus tidak akan berdampak pada stabilitas harga maupun kesejahteraan petani dan konsumen.

Baca Juga :  Sapi Kurban Surabaya untuk Iduladha 2025, Wali Kota Imbau Gunakan Kemasan Ramah Lingkungan

Soekam berpandangan bahwa keseimbangan harga menjadi tujuan utama dalam tata kelola pangan.

Ia menekankan pentingnya memastikan petani tetap memperoleh keuntungan yang layak, sementara konsumen tidak terbebani harga tinggi.

Hal ini hanya dapat dicapai jika distribusi berjalan merata dan terjangkau hingga ke wilayah konsumsi.

Ia juga menyoroti bahwa distribusi pangan tidak semata-mata persoalan ekonomi, tetapi memiliki dimensi sosial yang kuat.

Pangan dipandang sebagai komoditas strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Oleh karena itu, menurutnya, negara perlu memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap dapat mengakses pangan melalui skema bantuan sosial, tanpa mematikan mekanisme pasar.

Pasar tetap diperlukan sebagai penentu harga agar pedagang kecil dan pelaku usaha pangan tetap bertahan.

Baca Juga :  Harga Pupuk Subsidi Turun, Petani Jombang Semringah Sambut Musim Tanam 2025

Dalam konteks perubahan iklim, Soekam menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi petani berbeda-beda pada setiap komoditas.

Komoditas seperti gabah dan jagung relatif masih dapat disimpan lebih lama dengan dukungan teknologi pengeringan dan penyimpanan.

Namun, komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan tomat menghadapi persoalan lebih kompleks karena sifatnya yang mudah rusak dan membutuhkan penanganan pascapanen yang lebih canggih.

Ia menilai hingga saat ini teknologi penyimpanan yang mampu menjaga kesegaran produk hortikultura dalam waktu lama masih terbatas, sementara konsumen menuntut produk segar dengan kualitas baik.

Ketimpangan ini sering memicu fluktuasi harga tajam, terutama saat terjadi gangguan cuaca ekstrem.

Lebih lanjut, Soekam menegaskan bahwa kunci ketahanan pangan ke depan terletak pada pengembangan varietas unggul yang sesuai dengan kebutuhan pasar sekaligus adaptif terhadap perubahan iklim.

Baca Juga :  Gapoktan Harapan Makmur Imbau Petani Pastikan Kualitas Gabah Sebelum Disalurkan ke Gudang Bulog

Varietas unggul tidak hanya diukur dari tingginya hasil panen, tetapi juga dari daya tahan terhadap hama, efisiensi penggunaan pupuk, serta kemampuannya bertahan dalam kondisi hujan berlebih maupun kekeringan.

Di akhir pandangannya, Soekam menekankan pentingnya kehadiran negara secara nyata.

Ia menilai petani tidak seharusnya dibiarkan menghadapi ketidakpastian iklim sendirian tanpa dukungan alat, teknologi, dan kebijakan yang memadai.

Peran negara, menurutnya, harus diwujudkan dalam tindakan konkret di lapangan, bukan sekadar pernyataan atau slogan, agar ketahanan pangan nasional benar-benar terjaga di tengah tantangan perubahan iklim.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari
Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing
Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru
Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru
Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah
Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu
Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Kediri, Khofifah Turun Tangan Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha 2026 Sepi Pembeli, Pedagang Hewan Kurban di Malang Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 11:53 WIB

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari

Tuesday, 26 May 2026 - 08:51 WIB

Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing

Monday, 25 May 2026 - 19:48 WIB

Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru

Monday, 25 May 2026 - 11:48 WIB

Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah

Monday, 25 May 2026 - 11:47 WIB

Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu

Berita Terbaru