Inovasi Padi Rendah Karbon: Terobosan Teknologi Pertanian untuk Kendalikan Emisi dan Selamatkan Masa Depan Pangan

Redaksi UMKM JATIM

- Redaksi

Tuesday, 18 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UMKMJATIM.COM – Perkembangan teknologi terus bergerak cepat dan memberikan dampak signifikan pada berbagai sektor, termasuk dunia pertanian.

Berbagai negara berlomba menghadirkan inovasi untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menekan ancaman lingkungan yang semakin nyata.

Salah satu inovasi yang belakangan menarik perhatian adalah pengembangan padi rendah karbon.

Konsep ini mulai digencarkan karena dinilai mampu menekan kontribusi pertanian terhadap perubahan iklim global.

Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui laman resmi lembaga penelitian nasional, dunia pertanian disebut perlu melakukan lompatan inovatif untuk menghadapi tantangan produksi padi yang semakin kompleks.

Ancaman perubahan iklim, tekanan global terhadap produktivitas, serta kebutuhan pangan yang terus meningkat menjadi alasan utama mengapa transformasi sistem pertanian tidak lagi bisa ditunda.

Lembaga riset tersebut menekankan bahwa inovasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari teknik budidaya, irigasi, hingga strategi pengelolaan limbah.

Baca Juga :  Petani Milenial Sumenep Tampil di Ajang Inovasi Hortikultura Jawa Timur 2025, Buktikan Pertanian Bisa Keren dan Modern

Salah satu strategi utama yang dijadikan fokus dalam pengembangan padi rendah karbon adalah teknik alternate wetting and drying (AWD).

Metode ini diterapkan sebagai alternatif dari sistem irigasi tradisional yang mengandalkan perendaman lahan secara terus-menerus.

Teknik AWD dilakukan dengan memberikan jeda pengeringan pada lahan sawah sebelum air kembali dialirkan.

Pendekatan tersebut terbukti mampu menurunkan pembentukan gas metana yang biasanya muncul dari kondisi lahan tergenang.

Selain itu, penggunaan air juga menjadi lebih efisien tanpa merusak produktivitas tanaman.

Penerapan padi rendah karbon tidak berhenti pada teknik irigasi saja. Manajemen pemupukan spesifik lokasi juga menjadi strategi penting dalam program ini.

Pendekatan tersebut mendorong petani untuk menyesuaikan kebutuhan pupuk berdasarkan kondisi tanah dan lingkungan setempat, bukan sekadar mengikuti pola umum.

Baca Juga :  1.405 PPPK Paruh Waktu Terima SK, Wali Kota Madiun Tekankan Disiplin dan Evaluasi Kinerja Ketat

Pemanfaatan sensor teknologi untuk menentukan kebutuhan nutrisi tanaman semakin memperjelas bahwa pertanian kini bergerak menuju digitalisasi dan presisi yang lebih tinggi.

Di sisi lain, pendekatan pertanian sirkular pascapanen juga menjadi bagian dari strategi besar penurunan emisi.

Pengelolaan jerami, yang sebelumnya sering dibakar, kini diarahkan pada pemanfaatan kembali sebagai bahan kompos, pakan ternak, atau produk material lain yang berguna.

Pembakaran jerami dikenal sebagai salah satu penyumbang besar emisi metana dan nitrogen dioksida.

Dengan perubahan pola pengelolaan, dampak negatif terhadap lingkungan dapat ditekan secara signifikan.

Sistem pertanian tradisional yang mengandalkan perendaman lahan dan pembakaran limbah pertanian disebut sebagai penyumbang utama peningkatan gas rumah kaca.

Oleh sebab itu, teknologi seperti AWD, pemupukan berbasis sensor, serta teknik tanam langsung atau direct-seeded rice dinilai mampu menurunkan jejak karbon.

Baca Juga :  Cek bsu.bpjsketenagakerjaan.go.id Untuk Lihat Status Pencairan BSU di Kantor Pos Hingga bank BRI

Semua metode tersebut disusun untuk mencapai keseimbangan antara efisiensi produksi dan keberlanjutan lingkungan.

Mengingat padi merupakan sumber pangan pokok bagi lebih dari setengah penduduk dunia, keberlangsungan sistem produksinya menjadi isu penting.

Pengaturan yang baik, mulai dari fase pra hingga pascapanen, menjadi salah satu kunci dalam mempertahankan produksi yang stabil sekaligus melindungi ekosistem.

Dengan mengadopsi inovasi ramah lingkungan, negara-negara produsen padi diharapkan dapat menekan dampak negatif yang berpotensi mengancam masa depan pangan global.

Transformasi menuju padi rendah karbon bukan hanya sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan zaman.

Implementasi strategi ini menjadi langkah strategis dalam menjaga bumi, sekaligus memastikan ketahanan pangan tetap terjaga untuk generasi mendatang.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari
Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing
Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru
Darurat Logistik Jatim! Jumlah PBM Anjlok 70 Persen, Pelaku Usaha Waspadai Ancaman Baru
Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah
Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu
Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Kediri, Khofifah Turun Tangan Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha 2026 Sepi Pembeli, Pedagang Hewan Kurban di Malang Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 11:53 WIB

Telur Bakal Jadi Menu Wajib MBG? Harapan Baru Peternak yang Merugi hingga Rp3 Juta per Hari

Tuesday, 26 May 2026 - 08:51 WIB

Tak Lagi Jualan di Pinggir Jalan! Peternak Malang Raup Cuan Besar Berkat Live Streaming Kambing

Monday, 25 May 2026 - 19:48 WIB

Pamerkan Capaian Moncer, Gus Barra Yakin Mojokerto Siap Jadi Magnet Investasi Baru

Monday, 25 May 2026 - 11:48 WIB

Mojokerto Makin Dilirik Investor! Bupati Albarraa Ungkap Realisasi Investasi Tembus Triliunan Rupiah

Monday, 25 May 2026 - 11:47 WIB

Demi Swasembada Gula Nasional, Jombang Bidik 3.000 Hektar Bongkar Ratoon Tebu

Berita Terbaru